Gerakan Mahasiswa, Panggung Aspirasi atau Arena Permainan?
Ada kalanya kita melihat mahasiswa turun ke jalan, menyuarakan ini-itu, mengatasnamakan rakyat. Keren, kan? Tapi, pernahkah terlintas di benak Anda, gerakan seheboh itu sebenarnya digerakkan oleh siapa? Kebetulan minggu lalu saya ngobrol sama teman yang aktif di salah satu BEM di Jogja. Dia cerita soal kegelisahan teman-temannya di kampus lain. Intinya, mereka merasa ada yang nggak beres. Gerakan mahasiswa yang sejatinya murni menyuarakan aspirasi, kini tercium aroma-aroma politik praktis yang bikin risih.
Nah, kegelisahan ini akhirnya berujung pada pernyataan sikap bersama dari berbagai BEM se-Indonesia. Mereka kompak bilang ‘stop’ pada gerakan mahasiswa yang dicampuri urusan politik praktis. Jujur saja, ini bukan kali pertama isu ini muncul. Sejak zaman dulu kala, mahasiswa memang identik dengan agen perubahan. Tapi, kalau perubahan itu ditunggangi demi memuluskan langkah segelintir politikus, apa kabar idealisme mahasiswa?
Ketika Jas Almamater Dipertanyakan Maknanya
Pernah nonton film-film perjuangan mahasiswa zaman Orde Lama atau Orde Baru? Semangat pemberontakannya membara, tujuannya jelas: negara lebih baik. Tapi, di era sekarang, di mana informasi berseliweran tak terkendali, para ‘wakil rakyat’ atau calon ‘wakil rakyat’ terkadang lebih pandai memainkan narasi. Alih-alih fokus pada program dan gagasan, mereka justru piawai mendekati agen-agen perubahan, termasuk mahasiswa. Bayangkan, aspirasi rakyat yang seharusnya murni, malah dibajak demi kepentingan elektoral sesaat.
Yang bikin miris, saya beberapa kali dengar cerita ‘amplop berlabel’ yang diselipkan pada beberapa oknum mahasiswa yang dianggap punya ‘pengaruh’. Awalnya cuma rumor, tapi kalau sudah banyak yang cerita, rasanya kok jadi sebuah pola yang patut dicurigai. BEM se-Indonesia ini kayaknya merasakan hal yang sama. Mereka khawatir, gerakan yang tadinya jadi garda terdepan penyambung lidah rakyat, malah jadi alat untuk mengibarkan bendera politik tertentu. Jas almamater yang identik dengan intelektualitas, tiba-tiba jadi kostum kampanye dadakan.
Tolak ‘Ujian’ Politik Uang di Kampus
Teman saya tadi sempat bilang, “Kita ini kan lagi di masa-masa penuh ‘ujian’. Ujian skripsi, ujian proposal, ujian keilmuan. Jangan sampai ditambah ‘ujian’ dari luar yang bikin kita goyah, apalagi kalau ujiannya berhadiah uang atau jabatan.” Analogi yang menarik, bukan? Betul saja, para petinggi BEM ini ingin gerakan mahasiswa tetap steril dari praktik-praktik yang merusak demokrasi, seperti politik uang atau bagi-bagi ‘sembako’ demi dukungan.
Mereka menegaskan, posisi mahasiswa haruslah independen. Menjadi pengontrol sosial, kritikus yang membangun, bukan sekadar pion yang bisa digeser sesuka hati oleh pemain politik. Kalaupun ada aspirasi yang disampaikan, itu haruslah murni berasal dari keresahan kolektif civitas academica dan masyarakat luas, bukan pesanan dari ‘atas’. Sikap tegas ini penting agar marwah gerakan mahasiswa tetap terjaga kesuciannya.
Apa Selanjutnya?
Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat? Dukung penuh sikap independensi mahasiswa ini. Jangan mudah terprovokasi oleh isu-isu yang sengaja diembuskan untuk memecah belah. Mari kita kawal bersama agar mahasiswa tetap menjadi agen perubahan yang murni, yang suara mereka betul-betul berasal dari hati nurani, bukan sekadar pesanan politik.
Menurut saya pribadi, ini adalah momentum penting untuk mengingatkan kita semua, terutama para politikus, bahwa ada garis batas yang tak boleh dilanggar. Ruang gerak mahasiswa seharusnya bebas dari kepentingan politik praktis yang sempit. Bagaimana menurut Anda? Apakah gerakan mahasiswa saat ini sudah cukup independen dalam menyuarakan aspirasi?
Baca juga:
Baca juga: