Mengapa Elite Saja Harus Bersatu?
Jujur saja, ketika mendengar seruan seperti ini, pikiran saya langsung tertuju pada dua kemungkinan. Pertama, ini adalah manuver politik tingkat tinggi yang sifatnya temporal. Kedua, ini adalah harapan tulus dari seorang negarawan yang ingin melihat Indonesia utuh, tanpa sekat-sekat sempit yang justru seringkali diciptakan oleh para elite itu sendiri. Prabowo Subianto, dengan posisinya saat ini, tampaknya mencoba merangkul lebih luas. Bukan hanya menteri, anggota dewan, atau ketua partai, tapi juga para seniman, budayawan, akademisi, hingga tokoh masyarakat lintas bidang. Pertanyaannya menggelitik: apa yang membuat persatuan ini begitu krusial, sampai harus melibatkan ‘elite’ dari berbagai lapisan?
Kalau ditanya pendapat saya, ini adalah respons cerdas terhadap polarisasi yang kadang terasa begitu dalam di masyarakat kita. Ketika para ‘pemimpin’ atau figur publik di bidangnya masing-masing bisa duduk semeja, berdiskusi, bahkan berkolaborasi, auranya akan menular. Ibaratnya, jika para pemikir seni bisa bersinergi dengan para pengambil kebijakan, mungkin akan lahir ide-ide kreatif yang solutif untuk pembangunan bangsa, yang selama ini mungkin luput dari pandangan kaum birokrat. Atau sebaliknya, para politisi bisa belajar perspektif baru dari dunia seni yang lebih luas dan tak terduga.
Lupakan Sejenak Panggung Politik, Kita Bicara Kolaborasi Nyata
Seruan untuk bersatu ini, menurut saya, punya potensi besar jika diwujudkan di luar agenda-agenda politik yang kaku. Bayangkan saja, bagaimana jika setiap kementerian atau lembaga pemerintahan punya ‘mitra strategis’ dari kalangan seniman atau budayawan untuk proyek-proyek tertentu? Misalnya, saat merancang program pariwisata daerah, melibatkan seniman lokal untuk memastikan otentisitas budaya tidak luntur, atau bahkan menciptakan narasi yang lebih menarik. Kebetulan beberapa waktu lalu saya sempat berbincang dengan seorang teman yang bergerak di bidang perfilman. Ia mengeluhkan sulitnya mendapatkan akses dan pemahaman dari pihak-pihak terkait ketika ingin mengajukan proposal proyek film yang punya nilai edukasi sejarah. Nah, jika ada jembatan komunikasi yang lebih baik, kan sayang sekali potensi itu terbuang.
Atau bagaimana jika ada ajang semacam ‘temu karya elite’ yang tidak melulu membahas perebutan kekuasaan atau pembangunan infrastruktur fisik semata? Sebuah forum di mana seorang sutradara legendaris bisa bertukar pikiran dengan seorang menteri tentang bagaimana membangun narasi kebangsaan yang kuat melalui karya seni, atau bagaimana seorang arsitek ternama bisa memberikan masukan pada konsep tata kota tanpa harus terbentur birokrasi yang rumit. Ini bukan sekadar seremonial, tapi tentang bagaimana berbagai keahlian dan pandangan bisa saling memperkaya.
Tantangan di Balik Ajakan Bersatu
Tentu saja, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perbedaan latar belakang, kepentingan, dan cara pandang antar ‘elite’ ini bisa menjadi jurang pemisah. Para politisi terbiasa dengan hitung-hitungan suara dan kalkulasi elektoral. Para seniman mungkin lebih mengutamakan kebebasan berekspresi dan idealisme karya. Bagaimana menjembatani kedua kutub ini? Ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan kemauan dari semua pihak untuk saling memahami, bahkan mengalah demi tujuan yang lebih besar.
Saya ingat betul pengalaman pribadi saat mengikuti sebuah diskusi panel. Ada akademisi, praktisi bisnis, dan aktivis sosial. Awalnya, forum terasa alot karena masing-masing kukuh pada pandangannya. Tapi ketika fasilitator berhasil mengarahkan diskusi pada satu titik temu, yaitu ‘apa yang terbaik untuk masyarakat’, suasana berubah. Muncul pemahaman bahwa ego sektoral harus dikesampingkan. Jika ini bisa direplikasi dalam skala yang lebih besar, dengan melibatkan tokoh-tokoh penting di negeri ini, rasanya harapan Prabowo untuk melihat persatuan yang lebih hakiki bisa jadi kenyataan.
Pada akhirnya, ajakan bersatu ini adalah sebuah pengingat. Pengingat bahwa potensi bangsa ini tidak hanya ada di satu atau dua bidang saja. Ia tersebar luas, di tangan para pemikir, para penggerak, para pencipta, dan para pengambil keputusan. Mampukah kita keluar dari ego sektoral dan melihat gambaran yang lebih besar? Saya pribadi berharap demikian.
Baca juga: