Ketika Gerakan Mahasiswa Tergerus Praktik Politik
Lucu ya, dulu mahasiswa sering banget dibilang punya idealisme tinggi, agen perubahan, yang nggak takut bersuara. Sekarang? Kadang saya miris lihatnya. Ada kabar angin kalau beberapa gerakan mahasiswa akhir-akhir ini kayaknya mulai ‘belok’ arah. Bukan lagi murni mengawal aspirasi rakyat atau mengkritisi kebijakan yang merugikan publik, tapi kok kayak ada ‘oky-oky’ sama partai politik atau politisi tertentu. Nah, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) pun angkat bicara, mereka tegas menolak gerakan mahasiswa yang kayaknya udah ‘ditunggangi’ kepentingan politik praktis. Ini bukan soal anti-politik lho ya, tapi lebih ke menjaga marwah gerakan itu sendiri.
Kenapa Kudu Waspada?
Jujur saja, kalau kita lihat sejarah, gerakan mahasiswa itu punya kekuatan luar biasa. Ingat peristiwa 1998? Itu murni suara rakyat yang dikomandoi mahasiswa untuk perubahan besar. Tapi, ketika gerakan itu mulai tercampur aduk dengan kepentingan segelintir orang yang punya agenda politik sempit, justru bisa jadi bumerang. Kenapa? Karena fokusnya jadi buyar. Mahasiswa yang seharusnya mengawal isu kerakyatan, eh malah sibuk jadi ‘corong’ salah satu calon atau partai. Akhirnya, yang dirugikan bukan cuma mahasiswa itu sendiri, tapi juga masyarakat yang tadinya berharap ada suara independen yang bisa mereka percaya.
Kebetulan, saya pernah ngobrol sama salah satu senior yang dulu aktif di organisasi mahasiswa tingkat nasional. Dia cerita, dulu saja sudah ada godaan-godaan politik. Ada tawaran dana, ada janji jabatan setelah lulus, macam-macam. Tapi, komitmennya kuat untuk menjaga jarak. Menurut beliau, justru di saat-saat seperti itulah ‘uji nyali’ terbesar seorang aktivis. Mampu nggak dia menolak iming-iming yang bisa mengorbankan integritas gerakan? Kalau sampai kebablasan, yang terjadi ya seperti yang dikhawatirkan BEM SI sekarang. Gerakan mahasiswa jadi semacam ‘alat’ yang bisa dipinjam-pakai, bahkan dibuang setelah tidak lagi dibutuhkan oleh ‘pemiliknya’. Tragis kan?
Jadi Mahasiswa ‘Melandang’ Politik, Gimana Caranya?
Pertanyaan bagus. Kalau memang ada gerakan atau organisasimu yang terasa mulai ‘aneh’, jangan diam saja. Ini beberapa langkah kecil yang bisa kita lakukan, mulai dari diri sendiri dan lingkaran terdekat:
- Pertanyakan Sumber Dana & Keputusan: Kalau ada kegiatan besar, coba telusuri, dari mana sumber dananya? Apakah ada kejanggalan? Begitu juga saat membuat keputusan penting, apakah murni berdasarkan aspirasi anggota atau ada ‘arahan’ dari pihak luar?
- Perkuat Visi-Misi Organisasi: Ingatkan lagi teman-teman pengurus dan anggota tentang tujuan utama didirikannya organisasi. Apakah masih relevan dengan isu-isu kerakyatan atau sudah bergeser ke arah lain?
- Bicara Terbuka (dengan Etika): Jika memang ada ketidakberesan, coba diskusikan secara baik-baik di forum internal. Hindari tuduhan tanpa bukti, tapi sampaikan kekhawatiran secara konstruktif. Kalau perlu, ajak diskusi pimpinan organisasi.
- Cari ‘Teman Seperjuangan’ yang Sejalan: Bangun komunikasi dengan organisasi atau kelompok mahasiswa lain yang punya visi serupa. Kekuatan kolektif seringkali lebih sulit untuk ‘dibeli’ atau ‘ditunggangi’.
Bukan Anti-Politik, Tapi Jaga Independensi
Penting nih, kita harus paham, mahasiswa bukan berarti anti-politik. Justru, mahasiswa itu punya peran krusial dalam ekosistem politik negara. Tapi, yang dimaksud di sini adalah politik praktis yang sifatnya transaksional dan seringkali mengorbankan idealisme. Politik yang mengedepankan kepentingan sempit, bukan kepentingan publik yang lebih luas. BEM SI dengan pernyataannya ini sebenarnya sedang mengingatkan kita semua, para mahasiswa, untuk tetap memegang teguh prinsip independensi.
Bayangkan saja sebuah orkestra. Setiap alat musik punya perannya masing-masing. Biola, cello, trompet, semuanya penting untuk menciptakan harmoni. Tapi, kalau ada satu alat musik yang tiba-tiba main sendiri mengikuti irama lagu lain yang berbeda, tentu musiknya jadi kacau, kan? Sama seperti gerakan mahasiswa. Kalau mulai mengikuti irama politik praktis yang berbeda, visi perubahan yang sesungguhnya akan hilang. Kalau menurut kalian sendiri gimana? Sudah pantaskah gerakan mahasiswa saat ini kembali ke ‘jalur’ idealisme yang murni?
Baca juga:
Baca juga: