Ketika Amarah Melahirkan Formasi Politik Baru
Jujur saja, kalau ditanya tentang politik Indonesia, seringkali saya merasa sedikit lelah mengikuti dinamikanya yang kadang terasa berputar-putar. Namun, ada kalanya justru dari celetukan atau analisis seorang pengamat, muncul sebuah perspektif baru yang membuat kita terdiam sejenak. Seperti yang baru-baru ini dilontarkan oleh Rocky Gerung, yang kalau marah itu bisa bikin blok politik kiri. Sebuah pernyataan yang terdengar provokatif di permukaan, tapi kalau digali lebih dalam, ternyata punya logika yang menarik untuk diperhatikan.
Lahirnya Ideologi dari Frustrasi?
Menurut saya, ide Rocky Gerung ini bukan sekadar omongan kosong semata. Mari kita coba telaah. Kapan biasanya sebuah kelompok, atau bahkan sebuah ideologi, menemukan kekuatannya? Seringkali, itu terjadi ketika ada rasa ketidakpuasan, frustrasi, atau bahkan kemarahan terhadap tatanan yang ada. Blok kiri, dalam sejarahnya, seringkali lahir dari perjuangan melawan ketidakadilan, eksploitasi, dan penindasan. Mereka mengorganisir diri, membangun kekuatan kolektif, bukan karena merasa nyaman, tapi justru karena merasa ada yang salah dan perlu diubah.
Nah, kalau Rocky Gerung bilang ‘kalau marah bikin blok politik kiri’, ini bisa diartikan begini: Kemarahan yang dirasakan oleh sekelompok orang terhadap suatu kondisi, jika tidak tersalurkan dengan baik, bisa menjadi bahan bakar untuk membentuk sebuah kekuatan oposisi. Kekuatan yang merasa ‘dirugikan’ atau ‘tertinggal’ dari perkembangan politik yang ada. Bayangkan saja, ketika ada kelompok masyarakat yang merasa aspirasinya diabaikan, atau kebijakannya terasa memberatkan, reaksi spontan mereka bisa jadi kemarahan. Jika kemarahan ini terorganisir, bisa jadi itulah benih dari sebuah blok politik baru.
Contoh dari Sekitar Kita
Saya pernah melihat fenomena serupa, meskipun dalam skala yang lebih kecil. Dulu, di lingkungan tempat tinggal saya, ada keluhan soal pengelolaan sampah yang buruk dan terkesan lambat direspons oleh pemerintah daerah. Warga merasa gerah, kesal, dan tentu saja, marah. Awalnya, keluhan itu hanya dibicarakan di warung kopi atau grup WhatsApp RT. Tapi karena kemarahan itu terus membuncah dan tidak ada solusi konkret, akhirnya ada beberapa tokoh masyarakat yang tergerak. Mereka mulai mengorganisir pertemuan rutin, mengadvokasi ke dinas terkait, bahkan sampai membentuk semacam paguyuban warga peduli lingkungan. Dari keresahan dan kemarahan itu, lahirlah sebuah ‘blok’ baru, sebuah kekuatan kolektif yang berusaha menyuarakan kepentingannya.
Kemarahan yang Konstruktif atau Destruktif?
Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah kemarahan ini akan berujung pada sesuatu yang konstruktif atau justru destruktif? Di sinilah peran kesadaran politik menjadi sangat penting. Kalau kemarahan itu hanya menjadi emosi belaka, tanpa terarah pada tujuan yang jelas, ya mungkin hanya akan menjadi kebisingan. Tapi, jika kemarahan itu mampu diterjemahkan menjadi aksi kolektif yang terencana, dengan ideologi atau platform yang jelas, maka ia bisa menjadi kekuatan transformatif. Rocky Gerung mungkin melihat potensi transformasi itu, dari sekadar emosi negatif menjadi sebuah kekuatan politik yang terorganisir.
Tentu saja, ini bukan berarti kita harus selalu marah-marah dalam berpolitik. Pendekatan yang tenang dan bijak tetaplah yang utama. Namun, mengakui bahwa kemarahan bisa menjadi katalisator untuk perubahan, apalagi perubahan yang mengarah pada pemerataan atau keadilan, adalah sebuah poin yang patut direnungkan. Apakah justru para politikus yang sering meluapkan emosi di publik, tanpa solusi nyata, yang sebenarnya sedang tanpa sadar ‘membangun’ kekuatan bagi lawan politiknya? Sebuah pemikiran yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut oleh para pegiat politik dan masyarakat pada umumnya.
Baca juga: