Bukan Cuma Ngomong Doang: Konsep Desa Dasa Wisma di Tuban
Tahu tidak, ternyata ada lho gerakan akar rumput yang mulai berani bersuara menentang praktik politik uang? Kejadiannya bukan di negeri antah berantah, tapi di salah satu sudut Indonesia yang sedang bersiap menyambut Pemilu 2024. Saya dengar cerita ini dari obrolan di warung kopi minggu lalu, lumayan bikin “kaget tapi bahagia”. Di sebuah desa di Tuban, Jawa Timur, muncul inisiatif yang cukup menarik: membentuk konsep “Desa Dasa Wisma” atau yang bisa diartikan sebagai desa anti politik uang.
Intinya begini, warga di sana sepakat untuk tidak menjual suara mereka. Ada semacam kesadaran kolektif yang tumbuh, bahwa memilih pemimpin itu bukan ajang jual beli. Kalaupun ada calon yang mencoba menabur amplop atau janji-janji instan receh, mereka kompak menolak. Menariknya lagi, warga juga diajak untuk punya pemahaman yang lebih kritis tentang apa yang sebenarnya mereka butuhkan dari seorang wakil rakyat. Bukan sekadar bantuan sembako sesaat, tapi program nyata yang bisa mengangkat kesejahteraan jangka panjang.
Kenapa Gerakan Ini Penting Banget?
Jujur saja, politik uang itu seperti penyakit menahun yang terus kambuh setiap kali pemilu datang. Efeknya? Kita seringkali punya wakil rakyat yang terpilih bukan karena kapasitas atau integritasnya, tapi karena punya “modal” untuk menyebar pengaruh. Akibatnya, kebijakan yang lahir kadang cuma menguntungkan segelintir orang, atau lebih parah lagi, tidak menyentuh kebutuhan rakyat di akar rumput. Saya pribadi pernah melihat bagaimana tetangga saya, sebut saja Pak Budi, bingung harus memilih siapa. Dia cerita, “Semua calon sama saja, Pak. Datangnya pas mau pemilu, ngasih sembako, terus hilang.” Nah, ketidakpercayaan seperti ini yang harus diatasi.
Konsep Desa Dasa Wisma ini menawarkan sebuah solusi praktik. Mereka tidak hanya menolak, tapi juga membangun benteng pertahanan diri. Boleh jadi, ini adalah bentuk demokrasi yang lebih matang. Warga tidak lagi pasif menunggu, tapi aktif membentuk pilihan mereka sendiri. Ini seperti kalau kita mau beli barang, kan kita cari yang kualitasnya bagus, bukan sekadar yang paling murah tapi cepat rusak. Kenapa urusan memilih pemimpin beda?
Menurut saya, ini bukan cuma soal menolak amplop. Ini soal mendidik pemilih dan membangun kesadaran bahwa hak suara itu mahal nilainya, bukan untuk diperjualbelikan.
Tanggapan Partai Politik: Antusiasme Semu atau Sambutan Tulus?
Saya penasaran dong, kalau ada gerakan positif begini, bagaimana reaksi dari para partai politik? Kebetulan saya sempat baca beberapa tanggapan. Ada partai yang langsung sambut baik, memuji inisiatif warga, dan berjanji akan mengedukasi kadernya agar tidak melakukan politik uang. Ada pula yang menanggapinya lebih… normatif. Menyatakan setuju dengan gerakan anti politik uang, tapi tanpa langkah konkret yang jelas. Kalau ditanya pendapat saya, ini jadi semacam ujian bagi partai politik itu sendiri.
Apakah mereka benar-benar ingin memperbaiki kualitas demokrasi, atau sekadar ikut arus dan menjaga citra? Gerakan di desa ini bisa jadi parameter. Kalau partai politik benar-benar serius memperjuangkan aspirasi rakyat, mereka seharusnya merangkul dan bahkan mereplikasi konsep serupa di daerah lain. Bukan hanya sekadar lip service di media. Saya membayangkan, kalau ini bisa meluas, tentu akan jadi angin segar bagi demokrasi kita. Partai-partai mungkin perlu memikirkan ulang strategi kampanye mereka, yang seharusnya lebih fokus pada gagasan dan program, bukan sekadar tebar pesona dengan cara-cara lama.
Menyambut Pemilu yang Lebih Sehat
Politik uang memang sulit diberantas sampai akar-akarnya. Tapi, cerita dari desa di Tuban ini memberikan secercah harapan. Ini menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin, dimulai dari kesadaran kolektif di tingkat paling bawah. Partai politik punya peran krusial di sini. Mereka tidak bisa hanya menunggu. Seharusnya mereka aktif mendukung dan terlibat dalam upaya-upaya positif semacam ini. Pertanyaannya, apakah mereka siap? Dan yang lebih penting, apakah kita sebagai pemilih juga siap untuk memilih dengan hati nurani, bukan dengan iming-iming sesaat?
Baca juga: