Penutup Munas di Bangkalan, Prabowo Nostalgia Politik Ala Santri
Minggu lalu, sebuah acara besar Nahdlatul Ulama (NU) digelar di Bangkalan, Madura. Panggungnya megah, dihadiri ribuan orang, dan puncaknya adalah penutupan secara resmi oleh Menteri Pertahanan, Bapak Prabowo Subianto. Tapi, bukan sekadar pidato penutupan biasa yang terlontar dari beliau. Ada sesuatu yang menggelitik kuping dan hati saya sebagai pengamat politik. Beliau justru mengajak semua orang, utamanya para politisi, untuk melihat NU sebagai ‘sekolah’ terbaik dalam memelajari politik.
Dari Mana Prabowo Dapat Ide Segar Itu?
Jujur saja, ketika mendengar ucapan itu, saya langsung membayangkan suasana pondok pesantren. Bukan sekadar belajar kitab kuning atau menghafal Al-Qur’an, tapi lebih ke ruh pendidikannya. NU, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, tentu punya sejarah panjang dalam membimbing umatnya. Dalam sejarahnya, NU tidak hanya fokus pada aspek spiritual, tapi juga sosial, ekonomi, dan tentu saja, bagaimana berinteraksi dalam masyarakat yang majemuk. Nah, bukankah itu inti dari politik yang sebenarnya? Berinteraksi, memahami, merangkul, dan mencari solusi bersama.
Menurut saya, apa yang disampaikan Prabowo ini bukan sekadar pernyataan seremonial. Beliau sepertinya menangkap esensi dari nilai-nilai yang dipegang teguh oleh NU selama ini. Nilai-nilai seperti tawadhu’ (rendah hati), tasamuh (toleransi), kebersamaan, dan kearifan lokal dalam menyelesaikan persoalan. Coba kita lihat bagaimana NU berinteraksi dengan berbagai kalangan, menjaga persatuan bangsa, dan tetap relevan di tengah perubahan zaman. Bukankah ini sebuah ‘skill’ politik tingkat tinggi yang langka?
Politik Riau atau Politik Santri?
Kadang saya bertanya-tanya, apakah para politisi muda kita sekarang masih punya kesempatan untuk merasakan ‘pendidikan politik’ ala pesantren ini? Di era serba cepat, di mana informasi datang bertubi-tubi dari gawai, diskusi politik seringkali berujung pada adu argumen sengit atau saling menyerang. Budaya tabayyun (klarifikasi) dan mencari titik temu seolah hilang ditelan bumi. Politikus kita lebih banyak disibukkan dengan kampanye pencitraan, serangan fajar politik, atau sekadar ikut arus opini publik yang belum tentu benar.
Prabowo mengingatkan kita pada sebuah metode. Metode yang mengedepankan pendekatan personal, dialog mendalam, dan pemahaman akar budaya. Ketika beliau menyebut NU, beliau seperti sedang mengingatkan bahwa politik tidak melulu soal kekuasaan atau kursi. Ada dimensi moral, ada tanggung jawab sosial, dan yang terpenting, ada cara berinteraksi yang santun dan bijaksana. Seolah beliau berkata, “Kalau mau jujur, NU itu sudah lama banget jadi ‘sekolah’ politik yang paling otentik di negeri ini, lho!”
Pengalaman Pribadi: Ketulusan yang Tak Terganti
Kebetulan, beberapa tahun lalu saya pernah mengikuti sebuah acara diskusi yang dihadiri sejumlah kyai NU. Suasana diskusi itu sungguh beda. Para kyai menyampaikan pendapat dengan tegas namun tetap mengundang rasa hormat. Mereka saling mendengarkan, bahkan ketika ada perbedaan pandangan. Adajoke-joke segar yang diselipkan di antara pembicaraan serius, membuat suasana tidak kaku. Yang paling saya ingat adalah bagaimana mereka selalu menekankan pentingnya menjaga ukhuwah (persaudaraan) dan tidak memecah belah umat. Pernah ada pertanyaan sulit dari peserta, namun jawaban bijak sang kyai justru membuka wawasan baru tanpa menyalahkan pihak lain. Sungguh sebuah pelajaran berharga yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah formal dulu.
Pesan untuk Generasi Politik Selanjutnya
Ucapan Prabowo di Bangkalan itu bukan sekadar pemanis acara penutupan Munas. Itu adalah sebuah pesan kuat yang ditujukan kepada seluruh pelaku politik di Indonesia. Bahwa akar kebijaksanaan dan etika politik itu ada di dalam tradisi dan nilai-nilai luhur bangsa, yang salah satunya sangat kental dipegang oleh NU. Mungkin sudah saatnya para politisi, tua dan muda, berani meluangkan waktu untuk ‘nyantri’ sejenak, belajar meneladani cara NU berpolitik.
Pertanyaannya sekarang, siapa yang berani mengambil langkah nyata untuk belajar filosofi politik dari NU? Dan bagaimana caranya agar pelajaran berharga ini bisa lebih meresap dalam praktik politik sehari-hari, bukan hanya sekadar diucapkan di mimbar?
Baca juga: