NU dan Politik: Lebih dari Sekadar Partai
Pernyataan Prabowo Subianto yang menyebut Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ‘sekolah politik’ sejatinya bukan sekadar klaim semata. Ini adalah pengakuan jujur atas dimensi lain dari berpolitik di Indonesia, sesuatu yang sering kali terabaikan di tengah riuhnya narasi politik elektoral.
Bagi saya, NU memang menawarkan perspektif unik. Kita sering melihat politik sebagai medan perebutan kekuasaan, intrik, dan janji-janji manis. Namun, ketika kita menelisik cara NU berinteraksi dengan urusan publik—baik dalam format organisasi massa Islam terbesar di dunia maupun jejaring anggotanya yang tersebar luas—ada pelajaran kedalaman yang bisa dipetik. Ini bukan soal bagaimana merebut kursi, tapi bagaimana menjaga keharmonisan, merawat kebhinekaan, dan membangun konsensus di tengah perbedaan. Coba ingat-ingat, bagaimana para kiai NU biasa bersikap ketika menghadapi isu sensitif? Mereka lebih sering mengajak dialog, mencari titik temu, dan mengedepankan adab berpolitik.
Kearifan Lokal dalam Berpolitik
Coba perhatikan cara NU berargumen. Jarang sekali terdengar teriakan atau saling serang dalam forum-forumnya. Sebaliknya, mereka terbiasa dengan diskusi yang teduh, berlandaskan dalil, logika, dan rasa sungkan terhadap sesama. Prinsip tawassuth (moderat) dan tasamuh (toleran) yang sering digaungkan NU bukan hanya slogan ibadah, tapi juga alat diplomasi yang ampuh dalam kehidupan berpolitik.
Saya teringat beberapa tahun lalu, saat ada perdebatan sengit soal regulasi di tingkat daerah. Ketimbang saling menyalahkan, salah satu tokoh NU di kampung saya justru mengajak perwakilan dari berbagai elemen masyarakat untuk duduk bersama di masjid. Ia tidak bicara soal siapa yang benar atau salah, tapi lebih pada bagaimana menjaga ‘persaudaraan’ warga di tengah perbedaan pendapat. Sederhana, tapi dampaknya besar. Suasana yang tadinya panas, berangsur-angsur mendingin.
Nah, bukankah ini yang kadang hilang dari panggung politik kita saat ini? Fokus pada masalah, tanpa melihat sebagai musuh. Menghargai perbedaan, bukan sebagai ancaman. NU, dengan jaringannya yang luas dan sejarah panjangnya, telah mempraktikkan ini selama puluhan tahun. Mereka belajar berpolitik dari akar rumput, dari dinamika masyarakat yang kompleks, bukan semata-mata dari buku teori atau simulasi kekuasaan.
Politik Bukan Sekadar Angka
Pernyataan Pak Prabowo mengingatkan kita bahwa politik sejatinya adalah seni mengelola manusia dan kemanusiaan. NU, dengan pendekatannya yang selalu mengedepankan nilai-nilai moralitas dan kemanusiaan dalam setiap gerakannya, menawarkan model politik yang lebih beradab. Mereka punya cara untuk merangkul yang berbeda, mengayomi yang lemah, dan mendengarkan suara yang sepi.
Bukan berarti NU tidak punya pandangan politik, tentu saja ada. Namun, cara mereka menyampaikannya, cara mereka berinteraksi dengan pihak lain, justru menjadi pelajaran mahal. Ini tentang bagaimana membangun kepercayaan, menjaga persatuan, dan menciptakan stabilitas demi kemajuan bersama. Politik di NU, menurut pandangan saya, adalah manifestasi dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin—menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Jadi, jika kita bertanya-tanya di mana kita bisa belajar tentang politik yang sejati, yang tidak hanya soal menang-kalah, tapi soal membangun negeri dan menjaga keharmonisan, mungkin jawabannya memang sedekat itu. Cukup perhatikan bagaimana jamiyah sebesar NU bisa tetap eksis dan berkontribusi, bahkan di saat-saat paling krusial bangsa ini.
Refleksi Akhir
Apakah kita bisa mengadopsi kearifan berpolitik ala NU ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam diskusi politik di media sosial? Atau jangan-jangan, kita terlalu asyik berdebat sampai lupa esensi dari persaudaraan sebangsa?
Baca juga: