Jejak Politik di Lampu Kuning?
Menarik sekali melihat bagaimana Presiden Joko Widodo memulai serangkaian acara yang kemudian dilabeli ‘safari politik’. Titik mula dipilihnya Lampung, sebuah provinsi yang secara geografis cukup jauh dari pusat kekuasaan di Jakarta. Kebetulan atau disengaja, pemilihan lokasi ini kerap memantik berbagai spekulasi di kalangan pengamat politik. Menurut saya, ada semacam pesan tersirat di balik pilihan kota pelabuhan itu. Dan bila kita sambungkan dengan kehadiran PSI, Partai Solidaritas Indonesia, yang seringkali mendapat sorotan tersendiri, maka gambaran besarnya mulai sedikit terkuak.
PSI, Sang ‘Mesin Politik’ yang Diinginkan?
Selama ini, PSI memang dikenal sebagai partai yang punya spirit berbeda. Slogannya yang tajam, cara berkomunikasi kadernya yang seringkali blak-blakan, dan basis pendukungnya yang cenderung lebih muda, membuat mereka punya identitas yang cukup kuat. Namun, menjadi ‘mesin politik besar’ itu bukan perkara mudah. Ini bukan sekadar soal punya ideologi yang progresif atau mampu bersuara lantang di media sosial. Menjadi mesin politik berarti mampu menerjemahkan ide menjadi gerakan nyata di akar rumput, memobilisasi massa, dan yang terpenting, memenangkan kontestasi elektoral.
Kalau ditanya pendapat saya, ambisi untuk menjadikan PSI sebagai ‘mesin politik besar’ itu cukup ambisius. PSI masih tergolong partai yang ‘baru’ dibandingkan dengan partai-partai lama yang sudah punya sejarah panjang dan jaringan yang kokoh. Dibutuhkan kerja keras luar biasa, strategi yang matang, dan kemungkinan besar, dukungan yang kuat dari pihak-pihak yang berpengaruh untuk bisa mencapai tujuan tersebut. Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah PSI punya infrastruktur politik yang memadai untuk menopang ambisi sebesar itu? Atau apakah ini lebih pada upaya Jokowi untuk menciptakan ‘alternatif’ dalam lanskap politik yang mungkin sudah terasa jenuh?
Presiden dan Safari: Biasa atau Ada Udang di Balik Batu?
Safari presiden ke daerah memang hal yang lumrah. Kunjungan kerja, meninjau pembangunan, bertemu masyarakat, itu semua bagian dari tugas seorang kepala negara. Namun, ketika safari ini dikaitkan dengan dinamika partai politik, apalagi jelang momen-momen krusial seperti pemilu, nuansanya menjadi berbeda. Kehadiran Jokowi di tengah-tengah kader dan pendukung PSI, bahkan dalam momen yang terkesan santai, bisa diartikan sebagai sebuah bentuk dukungan moril. Ini bisa menjadi suntikan semangat yang luar biasa bagi partai.
Namun, apakah berarti ini adalah bentuk ‘pengarahan’ politik secara langsung? Saya rasa tidak sesederhana itu. Presiden punya tugas kenegaraan yang luas, menjaga stabilitas politik adalah salah satunya. Di sisi lain, beliau juga memiliki hak politik sebagai warga negara. Yang perlu kita cermati adalah bagaimana interaksi ini akan diterjemahkan oleh publik dan oleh partai-partai politik lainnya. Akan adakah persepsi bahwa ini adalah ‘restu’ politik? Dan bagaimana PSI akan memanfaatkan momen ini untuk memperkuat posisinya, tanpa terkesan hanya menjadi ‘kendaraan’ politik semata?
Perjalanan Jokowi di Lampung ini, dan bagaimana ia berinteraksi dengan PSI, ibarat mencoba memprediksi arah angin. Ada banyak faktor yang bermain, dari kebutuhan partai untuk penguatan elektabilitas, hingga manuver politik yang lebih besar yang mungkin belum sepenuhnya terlihat. Yang jelas, momen ini memberikan energi baru bagi PSI. Pertanyaannya sekarang, seberapa jauh energi ini bisa diubah menjadi kekuatan politik yang riil dan berkelanjutan? Saya pribadi cukup penasaran melihat kelanjutannya.
Baca juga: