Yang Muda, Yang Berkarya: Membekali Diri untuk Indonesia
Jujur saja, waktu pertama kali dengar ada konsep ‘sekolah pelatihan perwira politik’ yang fokus pada ekonomi dan pertahanan, pikiran saya langsung melayang. Bukan ke urusan partai atau kampanye macam yang biasa kita lihat di TV. Tapi lebih ke arah, ‘Wah, kok gini ya? Kok ada sekolah yang persiapannya mendalam banget buat orang-orang yang kelak pegang kendali negara?’ Ini bukan soal jadi tentara, bukan juga jadi menteri keuangan murni. Ini soal mereka yang dipersiapkan untuk mengambil keputusan strategis yang berakar kuat pada pemahaman fundamental bangsa, mulai dari perut sampai amannya.
Bukan Sekadar Janji Kampanye
Saya ingat dulu waktu kuliah, diskusi soal ekonomi cuma seputar teori kurva penawaran dan permintaan, atau debat macroekonomi antara dua kubu. Begitu juga soal pertahanan, paling banter bahas soal geostrategi atau alutsista terbaru. Tapi, konsep yang coba diusung oleh sekolah semacam ini tampaknya lebih holistik. Mereka ingin melahirkan pemimpin yang nggak cuma bisa pidato tapi paham betul bagaimana kebijakan ekonomi bisa berdampak langsung pada kedaulatan negara, atau bagaimana kekuatan pertahanan itu bukan sekadar deretan tank dan pesawat tempur, tapi juga nyali dan kesiapan strategis.
Bayangkan, calon pemimpin bangsa harus mengerti, misalnya, kenapa sebuah negara perlu punya cadangan devisa kuat. Bukan sekadar hafal angka, tapi paham dinamikanya, implikasinya kalau ada gejolak pasar global, dan bagaimana itu melindungi masyarakat dari inflasi yang tak terkendali. Atau, bagaimana perjanjian dagang internasional itu ternyata punya kaitan erat dengan keamanan nasional. Kalau ada negara lain yang ‘main api’ di perbatasan, tapi kita punya fondasi ekonomi yang kokoh, kita jadi punya posisi tawar yang lebih baik. Ini esensinya: kepemimpinan yang terdidik dan punya pandangan jangka panjang.
Dari Teori ke Realitas Perjuangan
Nah, sekolah semacam ini mencoba menjembatani jurang antara teori abstract di buku dengan realitas lapangan yang keras. Para peserta didorong untuk tidak hanya belajar dari dosen atau pakar, tapi juga harus terjun langsung. Mungkin mengunjungi sentra industri, berdiskusi dengan para perwira di lapangan, atau bahkan simulasi pengambilan keputusan saat krisis ekonomi dan keamanan terjadi. Ini penting sekali, menurut saya. Karena, bagaimanapun, negara itu kan pelanggannya banyak, dari rakyat jelata sampai investor kakap, dari ancaman siber sampai ancaman fisik.
Saya pernah ngobrol sama teman yang kebetulan pernah jadi staf ahli di salah satu kementerian. Dia cerita, betapa seringnya keputusan diambil tanpa pertimbangan matang lintas sektor. Misalnya, keputusan investasi besar di suatu daerah, tapi dampaknya ke pertahanan wilayah sekitar nggak diperhitungkan, atau sebaliknya. Padahal, menurut saya, setiap langkah kebijakan itu punya efek domino yang luas. Sekolah macam ini, kalau benar-benar dijalankan dengan serius, bisa jadi ‘benteng’ agar keputusan-keputusan krusial itu nggak cuma lahir dari intuisi sesaat atau kepentingan golongan.
Pendidikan Politik yang Sesungguhnya?
Terus, apa bedanya dengan sekolah politik biasa? Bedanya, kalau sekolah politik konvensional mungkin lebih banyak membahas ideologi, strategi pemenangan pemilu, atau tata kelola partai. Sementara pendidikan yang saya bayangkan ini lebih fokus pada ‘apa’ dan ‘bagaimana’ mengelola negara secara substansial. Bagaimana membuat kebijakan yang pro-rakyat, menjaga kedaulatan, dan memastikan negara aman, baik dari ancaman luar maupun persoalan internal. Ini kan esensi dari melayani, bukan sekadar berkuasa.
Kalau ditanya pendapat saya, ini sebenarnya adalah investasi jangka panjang yang monumental bagi sebuah negara. Mempersiapkan generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara akademis, tapi juga matang secara strategis dan punya pemahaman mendalam tentang fondasi negara. Mungkin terdengar idealis, tapi bukankah justru dari idealisme seperti inilah perubahan besar seringkali bermula? Semoga saja praktik ekonomi dan pertahanan ini benar-benar jadi mata kuliah wajib yang nggak cuma jadi pajangan di kurikulum.
Baca juga: