Pernah Nonton Debat Politik & Langsung Ngantuk?
Jujur saja deh, kalau ditanya soal politik, apa sih yang terlintas di benak kalian? Buat sebagian besar anak muda seumuran saya, jawabannya mungkin sama: ruwet, bikin pusing, dan terkesan cuma jadi tontonan orang-orang tua yang sibuk rebutan kekuasaan. Percaya deh, saya juga sering merasa begitu. Dulu waktu SMA, mata pelajaran PKn rasanya seperti mantra pengantar tidur, dan berita politik di TV isinya cuma debat alot yang entah apa faedahnya buat kehidupan sehari-hari.
Fenomena anak muda yang makin apatis terhadap politik ini bukan cuma isapan jempol. Coba saja lihat lingkungan sekitar. Berapa banyak teman sebaya yang benar-benar ngerti siapa wakil rakyatnya di daerah atau bahkan di pusat? Jarang kan yang antusias? Kalaupun ada yang peduli, seringkali cuma sebatas komentar di media sosial atau merasa tidak berdaya karena merasa suaranya tidak akan didengar. Nah, ini yang menarik untuk kita kupas lebih dalam.
Drama Politik vs Realita Anak Muda
Salah satu alasan utama kenapa generasi kita sekarang terkesan menjauh dari politik adalah gayanya yang seringkali terasa seperti sinetron azab. Berita politik yang sampai ke telinga kita seringkali didominasi oleh skandal, perseteruan antarpolitisi, manuver politik yang bikin geleng-geleng kepala, dan janji-janji kampanye yang entah benar terwujud atau tidak. Ini jelas sangat berbeda dengan dinamika kehidupan anak muda yang lebih banyak berkutat soal karir, teknologi, tren fashion, atau sekadar eksistensi di dunia maya.
Politikus kerap terlihat begitu jauh dari PROBLEM SEBENARNYA yang dihadapi anak muda. Bicara soal kesejahteraan pekerja gig economy? Masih banyak yang belum jadi fokus utama. Diskusikan soal sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai ijazah? Diskusi itu sering tenggelam oleh isu-isu panas perebutan kursi atau kebijakan yang terasa eksklusif. Pengalaman pribadi saya, pernah mengikuti sebuah diskusi publik yang membahas isu lapangan kerja bagi lulusan baru. Pembicaranya adalah seorang politikus. Sayangnya, selama satu jam audiensi, beliau lebih banyak bercerita pengalamannya di masa lalu dan kesulitan menjawab pertanyaan detail terkait regulasi ketenagakerjaan saat ini. Rasanya… yah, seperti bicara dengan tembok.
Informasi Politik Itu Susah Dicerna?
Selain gayanya yang kurang menarik, informasi politik itu sendiri seringkali disajikan dengan bahasa yang sulit dipahami. Bahasa birokrasi, istilah-istilah hukum yang rumit, atau latar belakang sejarah yang panjang, semuanya membuat informasi politik terasa berat. Ditambah lagi, banyak anak muda saat ini lebih terbiasa mendapatkan informasi melalui platform digital yang serba cepat dan visual. Konten politik yang panjang lebar, apalagi kalau bahasanya kaku, jelas tidak akan bertahan lama di tengah gempuran video pendek atau meme.
Kadang saya berpikir, kalau saja para politikus mau belajar sedikit cara berkomunikasi yang lebih santai, mungkin anak muda akan lebih tertarik. Bukan berarti menghina profesi mereka, tapi lebih ke bagaimana mereka bisa ‘turun gunung’ dan menjelaskan isu-isu penting dengan bahasa yang lebih mudah dicerna, bahkan mungkin sedikit humor. Siapa tahu, kan?
Apa yang Bisa Dilakukan?
Meningkatnya ketidakpercayaan anak muda pada politik bukan berarti kita harus pasrah saja. Justru ini jadi PR besar bagi para politisi dan juga kita sebagai warga negara. Para politisi perlu lebih peka dan adaptif dalam cara berkomunikasi, menggunakan platform yang relevan, dan yang terpenting, menunjukkan aksi nyata yang berdampak positif. Anak muda butuh bukti, bukan sekadar retorika.
Sementara itu, kita sebagai anak muda juga perlu lebih kritis dan tidak menutup diri sepenuhnya. Mungkin tidak perlu jadi pengamat politik super aktif, tapi setidaknya coba memahami sedikit tentang bagaimana kebijakan publik dibentuk dan siapa saja yang punya andil di dalamnya. Karena bagaimanapun, denyut nadi politik akan selalu memengaruhi kehidupan kita, mau kita suka atau tidak.
Jadi, kalau generasi kita kelak memegang kendali, apakah kita akan membuat wajah politik jadi lebih ramah anak muda? Atau justru melanggengkan pandangan bahwa politik itu urusan yang membosankan? Saya pribadi sih berharap yang pertama. Tapi, ya, semua kembali lagi pada bagaimana kita bersikap hari ini.
Baca juga: