Perempuan di Politik: Kapan Kita Berhenti Melecehkan di Internet?

Serangan gender dan pelecehan online terhadap perempuan politisi kian mengkhawatirkan. Rio Dondokambey menyuarakan keprihatinannya, mengingatkan kita tentang tantangan unik yang dihadapi perempuan di kancah politik.

Perempuan di Politik: Kapan Kita Berhenti Melecehkan di Internet?

Diskusi Penting dari Sulawesi Utara

Baru-baru ini, perhatian tertuju pada pernyataan Rio Dondokambey, yang menyoroti isu serius: serangan gender dan pelecehan online yang kerap menyasar perempuan di dunia politik. Ini bukan sekadar keluhan biasa, melainkan sebuah pengakuan pahit tentang kenyataan yang dihadapi banyak politisi perempuan di tanah air. Jujur saja, sebagai pengamat politik, saya sering miris melihat bagaimana debat publik di media sosial seringkali berubah jadi ajang saling menjatuhkan, bukan adu gagasan. Dan yang lebih menyakitkan, perempuan seringkali jadi sasaran empuk.

Bukan Sekadar Perbedaan Pendapat

Seringkali, ketika seorang politisi perempuan menyuarakan aspirasi atau kritik, respons yang diterima justru bernuansa pribadi, bahkan menyerang identitas gender mereka. Padahal, idealnya, diskusi politik haruslah fokus pada substansi, ide, dan program. Kalau ditanya pendapat saya, pelecehan semacam ini tak hanya merusak reputasi individu, tapi juga mencederai proses demokrasi itu sendiri. Bayangkan, bagaimana calon pemimpin perempuan bisa merasa aman dan nyaman untuk berkontribusi jika ancaman verbal dan serangan yang merendahkan terus mengintai di dunia maya? Ini adalah bentuk intimidasi yang efektif untuk membungkam suara mereka.

Dampak Jangka Panjang bagi Demokrasi Kita

Serangan-serangan ini tentu punya dampak jangka panjang. Ketika perempuan yang idealis dan kompeten merasa terintimidasi untuk mundur dari panggung politik karena maraknya pelecehan online, siapa yang rugi? Kita semua yang rugi. Keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan yang adil dan setara adalah salah satu pilar demokrasi yang sehat. Jika ruang digital yang seharusnya menjadi sarana komunikasi dan edukasi publik justru menjadi ladang subur bagi ujaran kebencian berbasis gender, maka subtansi demokrasi kita patut dipertanyakan.

Saya teringat pernah membaca sebuah studi (meski lupa persis datanya) yang menyebutkan bahwa perempuan politisi di negara X lebih rentan mengalami tekanan psikologis akibat komentar negatif di media sosial dibanding rekan laki-laki mereka. Ini bukan karena perempuan lebih lemah, tapi karena bentuk serangannya seringkali lebih personal dan menghakimi, mulai dari penampilan fisik, status perkawinan, hingga tudingan yang tak berdasar. Ini bukan lagi sekadar perselisihan pandangan politik, ini adalah serangan terhadap kemanusiaan mereka.

Bagaimana Kita Bisa Berubah?

Pernyataan Rio Dondokambey ini harus jadi momentum. Bukan hanya untuk dibicarakan sebentar lalu dilupakan, tapi untuk dijadikan bahan refleksi bersama. Apa yang bisa kita lakukan? Pertama, sebagai individu, sadari batasan dalam beropini. Hindari komentar yang bersifat personal, merendahkan, atau menyerang gender. Tunjukkan sikap kritis yang konstruktif. Kedua, platform media sosial perlu mengambil peran lebih aktif dalam memoderasi konten agar pelecehan semacam ini tidak merajalela.

Ketiga, penting untuk terus mendukung dan mengapresiasi politisi perempuan yang berani tampil dan berkontribusi. Jangan biarkan suara mereka tenggelam dalam kebisingan serangan online. Kita membutuhkan beragam perspektif dalam membangun negeri, dan perempuan punya peran krusial di dalamnya. Mari kita ciptakan ruang diskusi politik yang lebih aman dan terhormat, baik di dunia nyata maupun maya. Kapan kita bisa melihat debat politik yang fokus pada gagasan, bukan pelecehan? Pertanyaan ini masih menggantung di udara, menunggu jawaban dari kita semua.

Baca juga:

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *