Kenapa Anak Muda Makin Cuek Sama Politik?
Jujur saja, kadang saya suka heran lihat anak-anak muda sekarang. Informasi nyaris tanpa batas di genggaman, tapi kok ya banyak yang kelihatan adem ayem aja sama urusan politik? Bukan berarti mereka nggak peduli sama sekali ya, tapi mungkin cara kita mengkomunikasikan isu politik itu yang perlu dibenahi. Dulu, mungkin kampanye itu identik sama spanduk gede, orasi berapi-api, sama debat kusir di warung kopi. Sekarang? Zaman udah beda. Jangankan berdebat, dengar kata ‘politik’ aja kadang bikin mata langsung sayu.
Nah, fenomena inilah yang kayaknya lagi coba dipecahkan sama institusi pendidikan. Kebetulan, saya dapat kabar kalau SMA dan SMK Strada lagi getol banget mendorong siswanya buat nggak sekadar jadi penonton. Mereka ingin Gen Z ini jadi aktor yang kritis, yang paham betul apa yang sedang terjadi di sekitar mereka, terutama dalam ranah politik.
Bukan Cuma Hafalan, Tapi Menimbang Argumen
Waktu saya sekolah dulu, pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) itu rasanya ya cuma hafalan pasal, nama menteri, sama tanggal-tanggal penting. Nggak salah sih, tapi kayaknya kurang nendang buat ngajak mikir lebih dalam. Kalau mau Gen Z itu melek politik, pendekatannya harus lebih kekinian. Harus bisa bikin mereka penasaran, bikin mereka mau bertanya, dan yang paling penting, bikin mereka bisa membedakan mana informasi yang valid dan mana yang cuma hoaks.
SMA dan SMK Strada ini, menurut kabar yang saya dengar, mencoba menerapkan metode yang fokus pada pengembangan critical thinking. Jadi, bukan cuma soal ‘apa’ yang terjadi, tapi lebih ke ‘mengapa’ itu terjadi dan ‘bagaimana’ dampaknya bagi kita semua. Bayangkan saja, di kelas, bukannya dijejali materi teks book, mereka malah diajak diskusi soal berita terkini, menganalisis sudut pandang yang berbeda dari sebuah isu, bahkan sampai simulasi pengambilan keputusan kebijakan sederhana. Seru, kan?
Anekdot Kecil Dari Teman yang Mengajar
Saya punya teman, dia sih guru sejarah di salah satu SMA, bukan Strada tapi dekatlah konsepnya. Dia cerita pernah lagi ngajar soal reformasi. Nah, bukannya langsung ceramah, dia malah nyetel cuplikan film dokumenter pendek tentang demo mahasiswa di era 90-an, terus setelah itu dia buka forum. Awalnya anak-anak kaku, tapi lama-lama ada yang nyeletuk, “Kok mirip ya, Pak, sama yang kejadian kemarin di medsos?” Wah, dari situ diskusi jadi hidup! Mereka mulai menghubungkan peristiwa sejarah dengan fenomena kekinian yang mereka lihat atau dengar sehari-hari. Ternyata, pengalaman teman saya itu sejalan banget sama apa yang coba diusung Strada. Kuncinya adalah membuat materi relatable dan memancing rasa ingin tahu alami siswa.
Bagaimana Kita Bisa Ikutan Mendorong?
Sebenarnya, nggak harus jadi guru atau sekolah formal kok buat mendorong generasi muda berpikir kritis soal politik. Kita semua bisa. Caranya? Pertama, jadilah contoh. Kalau kita sendiri malas baca berita, malas diskusi sehat soal isu publik, ya percuma. Anak-anak kita, keponakan kita, adik-adik kita, itu mengamati. Kedua, berani ajak ngobrol. Nggak perlu menggurui, cukup buka percakapan ringan. “Eh, kamu lihat berita soal program X itu nggak? Menurutmu gimana?” Biarkan mereka menjawab, dengarkan. Kalau salah, bisa dikoreksi pelan-pelan. Berikan data pendukung yang mudah dicerna, bukan langsung menghakimi.
Ketiga, jangan takut kalau mereka punya pandangan berbeda. Justru itu bagus! Itu tanda mereka sedang belajar berpikir. Tantang mereka untuk **mendukung argumennya** dengan fakta, bukan sekadar emosi. Ingat, tujuan kita bukan membuat mereka jadi politikus dadakan, tapi jadi warga negara yang melek, yang cerdas memilih, dan yang mampu berkontribusi positif.
Bagaimana menurut Anda? Metode apa lagi yang menurut Anda efektif untuk membuat Gen Z lebih tertarik dan kritis terhadap isu-isu politik di sekitar mereka?
Baca juga: