Prinsip Klasik, Tantangan Baru
Baru-baru ini, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto kedatangan tamu istimewa. Delapan duta besar dari negara-negara sahabat hadir di kantornya. Bukan sekadar basa-basi, pertemuan ini menjadi momentum Prabowo untuk kembali menegaskan komitmen Indonesia terhadap prinsip politik luar negeri yang dipegangnya: politik luar negeri bebas aktif. Sebuah prinsip yang sudah jadi pegangan Indonesia sejak lama. Tapi, di era seperti sekarang, apakah prinsip ini masih relevan? Atau justru makin menantang untuk diimplementasikan?
Politik luar negeri bebas aktif itu intinya begini: Indonesia tidak mau memihak pada blok kekuatan mana pun, tapi tetap aktif berkontribusi dalam upaya menciptakan perdamaian dan stabilitas dunia. Ia ingin Indonesia menjadi pemain, bukan sekadar penonton. Nah, bayangkan sebuah pertunjukan wayang. Indonesia itu bukan penonton yang diam saja di bangku, tapi juga bukan dalang yang mengendalikan semua cerita. Indonesia ingin jadi ‘punakawan’ yang punya pandangan sendiri, bisa ngasih kritik membangun, tapi nggak mau diajak berantem sama salah satu pihak yang lagi bersitegang.
Bebas Aktif di Pusaran Geopolitik
Dunia sekarang ini kan lagi ramai sekali. Ada ketegangan antara blok Barat dan Timur, persaingan dagang yang makin panas, isu perubahan iklim yang butuh solusi global. Di tengah riuh rendah itu, Indonesia dituntut untuk menunjukkan sikap. Prabowo, sebagai pemegang mandat di kementerian pertahanan, tentu punya tanggung jawab besar untuk memastikan langkah Indonesia di kancah internasional sejalan dengan prinsip tadi. Ia perlu merajut tali persahabatan dengan banyak negara tanpa harus terseret ke dalam pusaran konflik.
Pernah saya ngobrol sama teman yang bekerja di salah satu kedutaan besar kita di Eropa. Dia cerita betapa susahnya menjaga agar Indonesia tetap dilihat netral tapi juga punya posisi tawar. Kadang, ada negara yang ‘mendekat’ berharap Indonesia bisa ikut ‘ke sana’, kadang ada juga yang ‘menjauh’ karena khawatir Indonesia punya hubungan baik dengan ‘sana’. Ini kan dilema klasik. Bagaimana kita bisa tetap ramah ke semua, punya banyak teman, tapi juga punya suara sendiri yang didengar dan dihormati?
Implementasi: Bukan Sekadar Retorika
Prabowo sendiri mengatakan bahwa kebebasan dalam menentukan kebijakan luar negeri dan keaktifan dalam menjaga perdamaian adalah kunci. Tapi, menurut saya, kebebasan itu harus diimbangi dengan pemahaman mendalam tentang kepentingan nasional kita. Apa yang sebenarnya kita untungkan? Apa yang bisa kita tawarkan ke dunia? Mengingat Indonesia ini negara besar dengan potensi sumber daya alam dan pasar yang tidak sedikit, seharusnya kita punya nilai tawar yang kuat.
Keaktifan itu juga bukan cuma soal hadir di pertemuan-pertemuan internasional. Tapi bagaimana kita bisa menawarkan solusi konkret. Misalnya dalam isu perdamaian, Indonesia punya rekam jejak yang lumayan. Atau dalam isu ekonomi, bagaimana kita bisa mendorong kerjasama yang saling menguntungkan, bukan hanya dilihat dari kacamata negara maju. Jujur saja, kadang saya suka miris melihat bagaimana negara-negara kecil atau berkembang seringkali hanya ‘diperah’ sumber dayanya tanpa bisa berdaya banyak. Nah, prinsip bebas aktif ini seharusnya jadi tameng agar itu tidak terjadi pada Indonesia.
Tantangan ke Depan
Menjaga keseimbangan itu pasti tidak mudah. Apalagi jika ada tekanan dari berbagai pihak yang punya kepentingan berbeda. Bagaimana Prabowo dan pemerintah Indonesia ke depan bisa menerjemahkan ‘bebas aktif’ ini dalam kebijakan yang nyata, bukan sekadar slogan? Apakah kita akan melihat Indonesia lebih berani mengambil peran dalam mediasi konflik? Atau lebih agresif dalam negosiasi perdagangan? Jawabannya tentu akan terungkap seiring waktu.
Yang jelas, pertemuan dengan para dubes ini menjadi sinyal baik. Itu menunjukkan bahwa komunikasi terus dibangun. Tapi, komunikasi saja tidak cukup. Harus ada langkah nyata yang menunjukkan bahwa Indonesia benar-benar ingin menjadi pemain yang tangguh dan punya suara di panggung dunia. Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda melihat implementasi politik luar negeri bebas aktif ini sudah berjalan baik selama ini?
Baca juga:
Baca juga: